Monday, June 13, 2016

Revitalisasi Pasar Tradisional di Papua & Papua Barat


Kementerian Perdagangan terus berkomitmen membangun ekonomi kerakyatan dengan membangun infrastruktur pasar. Tak kurang dari Rp 140,5 miliar dikucurkan untuk membangun pasar di Papua dan Papua Barat. Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong blusukan ke sejumlah pasar di Papua bekerja sama dengan Pokja Papua hingga memantau Pasar Skow, di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua. Pasar Skow merupakan pasar perbatasan antara Papua dan Papua Nugini.

“Pemerintah fokus membangun infrastruktur pasar untuk meningkatkan perekonomian rakyat di daerah. Seperti di Pasar Skow ini. Keberadaanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sebagai pusat perekonomian masyarakat setempat, pasar ini juga merupakan pasar ekspor dengan pembeli yang berasal dari Papua Nugini,” jelas Mendag Thomas Lembong.

Pasar Skow dibangun selama empat tahun, yaitu pada tahun 2007, 2008, 2009, dan 2011 dengan total anggaran Rp 20,5 miliar. Pasar ini diresmikan pada 2 Februari 2012. Pasar Skow dibangun atas kerja sama Kemendag dengan Pemerintah Provinsi Papua melalui Dana Tugas Pembantuan tahun 2007. Pasar ini memiliki 200 kios dan ditempati oleh 280 pedagang termasuk pedagang kaki lima dan mama-mama penjual pinang.

Pada tahun 2015, Provinsi Papua mendapat alokasi anggaran untuk membangun delapan pasar. Kedelapan pasar tersebut adalah Pasar Entrop, Pasar Baru Waropen, Pasar Elelim, Pasar Kenyam, Pasar Sentral Mulia, Pasar Eiknemba, Pasar Doyo Baru, dan Pasar Jibama. Biaya pembangunan delapan pasar mencapai Rp 85 miliar.

Sementara itu, Provinsi Papua Barat mendapat alokasi anggaran untuk membangun tujuh pasar. Pasar-pasar tersebut adalah Pasar Amahami, Pasar Wosi, Pasar Iriati, Pasar Rufei, Pasar Waisai, Pasar Kumurkek, dan Pasar Tambaruni. Anggaran untuk membangun tujuh pasar mencapai Rp 55,5 miliar.